Malam ini, aku tidur dalam pelukan puisi orang lain.
Darinya,
kukecap lembab hangat senyummu.
Kusesap bau tubuhmu.
Kudekap erat rindumu.
Tak perlu, kataku.
Bukan puisimu yang kumau.
Cukup wujud nyatamu di sampingku.
Cukup itu.
Karena bagiku, hadirmu adalah
Kumpulan frasa yang membentuk kalimat indah
Lebih dari semua puisi yang pernah ada.
Minggu, 29 Mei 2016
Kamis, 23 Oktober 2014
Kamis, 16 Oktober 2014
Selasa, 07 Oktober 2014
Sabtu, 27 September 2014
Rabu, 24 September 2014
Minggu, 14 September 2014
Senin, 08 September 2014
Surya dan Purnama
Surya
beranjak dari tempatnya,
menyisakan semburat merah muda di ujung senja,
sedang Purnama merangkak terengah mengejarnya.
menyisakan semburat merah muda di ujung senja,
sedang Purnama merangkak terengah mengejarnya.
Sayang,
Semesta tak mengizinkan mereka bertatap muka.
Namun
Purnama mengerti
Mereka
tak akan indah jika bersama.
Surya
dan Purnama indah dengan cara mereka sendiri-sendiri.
Andai
Surya dan Purnama bertatap muka,
maka sinar siang silaunya membakar bumi
maka sinar siang silaunya membakar bumi
Sedang malam didera gulita yang muram dan sunyi.
Jadi, begini pun cukup untuk Purnama.
Meski sulit, diam-diam ia bahagia.
Selasa, 29 Juli 2014
Selasa, 22 Juli 2014
Selasa, 03 Juni 2014
Minggu, 01 Juni 2014
Hidup Sendiri ≠ Mandiri
Dan di sinilah saya.
Menyempil sendiri di tengah keramaian salah satu restoran cepat saji di pusat ibukota, Jakarta.
Tengah menghitung menit demi menit, jam demi jam, menuju Senin, menunggu pengalaman pertama bernama simulasi dunia kerja di dunia nyata.
Menunggu di mana ilmu tak lagi sekedar teori belaka atau sekedar kata-kata dalam buku panduan kuliah saja.
Kepala dipenuhi tanya, sedang hati campur aduk dengan berbagai macam rasa.
Pengalaman pertama memang selalu menimbulkan euforia dengan rasa penasaran di dalamnya.
Seperti tiga tahun lalu, saat pertama kalinya menjadi mahasiswa dan jauh dari orangtua.
Bagi saya yang seorang penyendiri dan selalu ingin menjadi mandiri, pengalaman pertama ini adalah sesuatu yang sangat dinanti-nanti.
Dan sekarang, saya tiba di titik ini lagi.
Lalu, setelah 3 tahun merasakan hidup sendiri apakah lantas membuat saya menjadi mandiri?
Selama ini saya pikir begitu.
Hingga proses menuju 'pengalaman pertama' ini menyadarkan saya bahwa menjadi mandiri tak cukup dengan hidup sendiri, bahwa menjadi mandiri bukan sekedar jauh dari orangtua saja.
Mandiri berarti tahu bagaimana mengambil keputusan tepat sendiri.
Tahu bagaimana bersikap, bagaimana menghadapi masalah dan mencari solusi tanpa perlu disetir-setir orang lain lagi.
Semua orang bisa melakukan apa-apa sendiri, memutuskan sesuatu dan menghadapi masalah yang dihadapi dengan caranya masing-masing tanpa ada perlu campur tangan orang lain.
Tapi, apakah sikap dan keputusan yang diambilnya sendiri itu sudah tepat dan bijak?
Akhirnya saya pun tiba pada kesimpulan:
Mandiri bukan tentang bisa melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.
Mandiri adalah tentang mengambil keputusan yang tepat dan bersikap bijak dalam menghadapi segala sesuatu sendiri.
Jadi, apakah kita sudah benar-benar menjadi mandiri?
Minggu, 25 Mei 2014
At least I'm trying
I'm not that smart.
But I'm trying to looks smarter.
I'm not that kind.
But I'm trying to be more positive to anyone.
I'm not that perfect.
But I'm trying to work harder and learn more.
But I'm trying to looks smarter.
I'm not that kind.
But I'm trying to be more positive to anyone.
I'm not that perfect.
But I'm trying to work harder and learn more.
Maybe I'm a fake,
But at least I'm trying to be better.
But at least I'm trying to be better.
Minggu, 11 Mei 2014
Karya di Balik Trauma: IGAK Murniasih
Bibirnya menyunggingkan senyum yang lebar dan
bahagia, matanya mengerling jenaka, dan sepasang alis tebal bak ulat bulu bewarna
hitam, bertengger santai di keningnya. Siapa sangka, wajah itu menyimpan trauma?
I Gusti Ayu Kadek Murniasih namanya. Beliau
merupakan salah satu pelukis perempuan ternama di Indonesia, bahkan banyak
karyanya sudah melanglang buana hingga mancanegara. Beliau mengangkat masalah
gender dan seks sebagai subjeknya dalam berkarya. Melalui karyanya, Murni tak
sekedar bercerita tentang seks saja, lebih dari itu, beliau berbicara tentang
hidup melalui simbol-simbol yang dapat diinterpretasikan sebagai genital
manusia dalam bentuk yang menarik dan jenaka.
Lahir pada tanggal 21 Mei 1966 di Tabanan,
Bali (sumber lain mengatakan beliau lahir di Jembrana pada 4 Juli 1966) dari
keluarga kalangan menengah bawah. Murni—begitu beliau akrab disapa—sejak kecil
telah hidup dalam penderitaan dan kemiskinan. Orangtuanya adalah petani yang
kemudian menjual sawahnya dan memutuskan untuk bertransmigrasi ke pedalaman
Sulawesi. Di sana, beliau membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di
sebuah keluarga Cina yang menyekolahkannya hingga kelas 2 SMP. Kemudian,
bersama keluarga tersebut, beliau pindah ke Jakarta dan diajak bekerja di
garmen sebagai tukang jahit. Tak betah di Jakarta, Murni akhirnya memutuskan
untuk kembali ke Bali dan menjadi pengrajin perak di sana.
Murni kemudian bertemu dengan seorang lelaki
dari Payangan, Gianyar yang mengajaknya menikah. Namun, pernikahan tersebut
kandas karena Murni tak mampu menghasilkan keturunan dan lelaki tersebut ingin
menikah lagi.
Setelah perceraian yang menimbulkan luka
tersebut, Murni memutuskan untuk belajar melukis gaya Pengosekan di Ubud sambil
bekerja. Murni kemudian belajar pada Dewa Putu Mokoh, seorang pelukis
Pengosekan yang sering mengangkat tema-tema yang berbau cabul dan porno dalam
tutur visual yang jenaka. Dari Mokoh-lah, Murni akhirnya menemukan gaya lukis
yang mampu menjadi terapi bagi derita batin yang dipendamnya. Kanvas pun
menjadi media ekspresi jiwa dan obat yang mumpuni bagi traumanya.
![]() |
| Karya-Karya IGAK Murniasih |
Karya-karya Murni merupakan ekspresi diri dan
penggambaran emosi dari pengalaman individualnya tentang seks. Kebanyakan
lukisannya merupakan ungkapan emosi yang jujur atas pengalaman getir yang
dialaminya sejak kecil. Bagaimana kekerasan seksual yang beliau alami yang
dilakukan oleh ayahnya sendiri, seorang lelaki yang harusnya menjadi sosok
pelindung tapi malah menodai darah daging sendiri.
Selain itu Murni bercerita pula tentang
pernikahannya. Beberapa lukisannya mengungkapkan tentang keinginan kuatnya
untuk memiliki anak sebagai seorang perempuan. Termasuk stigma bahwa perempuan
yang utuh dan ideal adalah perempuan yang hamil dan melahirkan, di mana beliau
tak memiliki kemampuan untuk itu.
Dari karya-karyanya, Murni mengajak
masyarakat untuk mengakui bahwa kekerasan seksual dan nilai serta norma yang
ada di masyarakat yang menyudutkan perempuan itu selalu ada meski berusaha ditutup-tutupi.
Norma dan nilai seringnya menimbulkan tabu yang membatasi diri kaum perempuan
dalam mengungkapkan hal tersebut sehingga hanya mampu menjadi luka batin dan
trauma yang berusaha dipendam namun bisa menjadi hantu yang paling mengerikan
seumur hidup.
![]() |
| Digembok (Karya Murniasih) |
Dalam perjalanan hidupnya yang begitu
berliku, pada akhirnya Murni menemukan kebahagiaan bersama Mondo—seorang pelukis Italia yang mencintai Murni dengan segenap jiwanya. Mereka tinggal di sebuah tengah
tegalan di Pengosekan yang dikontrak Mondo dan membangun studio bambu
sederhana, tidak jauh dari studio Mondo. Mondo adalah kekasih sekaligus guru
yang banyak mengajari Murni teknik melukis dan komposisi ala Barat.
I Gusti Ayu Kadek Murniasih akhirnya tutup
usia pada 11 Januari 2006 karena kanker rahim. Beliau wafat padausia yang belum juga mencapai angka 40. Dunia seni kontemporer Indonesia lagi-lagi kehilangan seorang
perupa perempuan yang berbakat dan potensial, yang mampu dengan tegar
mengungkap mimpi buruk dan penderitaan-penderitaannya secara jujur dan polos tanpa
pretensi, yang berhasil mengatasi kegetiran dengan menikmati setiap bagian tubuhnya
dengan berterus terang.
Apa yang dapat dipetik dari Murni adalah,
tiap manusia menyimpan penderitaan dan trauma masing-masing. Meski kita tak
dapat lepas dari bayang-bayang mengerikan namun kita masih bisa memilih apakah
ingin terus terjerumus dalam bayang-bayang itu atau mengolahnya menjadi sesuatu
yang positif. Misalnya, dalam bentuk karya.
Kamis, 01 Mei 2014
Shirin
Neshat merupakan salah satu perupa perempuan Islam yang mengangkat masalah
gender, politik, dan agama dalam dunia Muslim sebagai subjek dalam berkarya. Melalui
karyanya, Shirin Neshat banyak bercerita tentang kehidupan perempuan Islam Iran
yang terpengaruh dogma-dogma budaya dan nilai yang mengatasnamakan agama, serta
konflik politik dalam dunia Islam. Kepindahannya ke New York untuk menempuh
pendidikan mengubah hidupnya.
Shirin Neshat lahir pada tanggal
26 Maret 1957 di Qazvin, sebuah daerah dengan nuansa relijius yang kuat,
terletak di sebelah barat laut Iran. Beliau merupakan anak keempat dari lima
bersaudara dan berasal dari keluarga kalangan menengah ke atas. Ayahnya
termasuk lelaki yang berpikiran maju pada saat itu. Saat di mana orangtua
lainnya di Iran menetapkan aturan yang ketat kepada anak-anak perempuannya
sesuai dengan dogma budaya dan agama yang ada pada saat itu, ayah Shirin Neshat
justru mendorongnya untuk menjadi individu yang mandiri, mengambil resiko,
terus belajar, dan melihat dunia.
Kehidupannya mulai berubah
drastis saat beliau dikirim ke sekolah Katolik di Teheran. Beliau harus
menjalani kehidupan yang sangat berbeda, dari kehidupan keluarga yang hangat
dan kental dengan nilai-nilai Islam menjadi kehidupan akademis yang penuh
dengan aturan dan nilai-nilai Katolik. Keterkejutan Shirin akan perubahan
drastis yang harus beliau alami membuatnya depresi hingga menderita anoreksia.
Pada periode tahun 1960-an
hingga awal 1970-an, pendidikan Barat menjadi populer di kalangan keluarga
menengah atas Iran. Banyak orangtua dari kalangan tersebut mengirimkan putra
mereka ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan Barat. Begitu pula keluarga
Shirin Neshat. Namun, yang membedakan keluarga Shirin dengan keluarga lainnya,
yang dikirim tak hanya putra-putranya saja. Putri-putri mereka, termasuk Shirin
turut dikirim ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.
Shirin menyelesaikan studinya di
jurusan Seni hingga mendapat gelar BA, MA, dan MFA di University of California,
Berkeley. Kehidupannya di dunia Barat, membuat pikirannya semakin terbuka dan
wawasannya semakin berkembang.
PERJALANAN
SHIRIN NESHAT DALAM BERKARYA
Setelah menyelesaikan studinya,
Shirin Neshat tidak serta merta produktif berkarya. Pada awal-awal pasca
kelulusannya dari Berkeley, beliau merasa ide-idenya tidak cukup kuat dan beliau
tidak siap untuk menghasilkan karya seni. Beliau juga merasa tidak cukup
terilhami oleh sejarah seni yang telah dipelajarinya.
Shirin
Neshat pun memutuskan untuk pindah ke New York. Namun, beliau semakin
terintimidasi oleh karya-karya seni kontemporer yang ada di sana dan semakin
menyadari bahwa dirinya belum cukup dewasa dan bergairah untuk berkarya. Yang
Shirin lakukan selanjutnya adalah bekerja di sebuah institusi seni bernama The Storefront
for Art and Architecture yang didirikan oleh mantan suaminya, Kyong Park. Beliau
bekerja sebagai administrator sambil membantu dalam program kuratorial. The
Storefront merupakan organisasi non-profit yang didedikasikan untuk
menyampaikan program seni dan arsitektur dengan mengumpulkan orang-orang yang
memiliki latar belakang arsitek, baik secara teoritis maupun praktis. Dengan
bergabungnya Shirin ke dalam organisasi ini, beliau bertemu dengan orang-orang dari
berbagai bidang, seperti seniman, arsitek, filsuf, budayawan, bahkan terkadang
ilmuwan, yang berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran-pemikiran
Shirin.
Yang
menjadi titik balik Shirin dalam bidang seni adalah saat beliau memutuskan
untuk kembali ke Iran pada tahun 1990 setelah 12 tahun kepergiannya. Perjalanan
tersebut hingga perjalanan-perjalanan selanjutnya membuatnya fokus pada
artistik, terutama pada Revolusi Islam dan peran perempuan dalam revolusi
tersebut. Hal itu membuatnya sadar bahwa beliau menemukan subyek yang
membuatnya bergairah untuk berkarya. Hingga akhirnya ia membuat karya
pertamanya pada tahun 1993-1997 yang berjudul “Women of Allah”. Karya ini merupakan karya fotografi yang
mengangkat tema tentang revolusi dan konsep tentang ‘syahid’.
| |||||


Karya seni berupa fotografi ini
memiliki visual yang sederhana. Beberapa elemen dimunculkan berulang kali: tubuh perempuan, topik yang banyak
mengundang masalah dalam budaya Islam karena mengimplementasikan aib, dosa, dan
seksualitas; teks kaligrafi, yang
memuat puisi dari penulis perempuan Iran; senjata
api, sebagai lambang kekerasan; dan kerudung
atau cadar, yang begitu kontroversial, dianggap sebagai lambang penindasan
sekaligus pembebasan—perlawanan terhadap pengaruh Barat.
Karya ini terinspirasi oleh
Revolusi Islam di Iran. Sebelum revolusi, kepemimpinan Shah mencoba untuk
mempromosikan budaya sekuler. Bahkan, hijab tidak disukai dan cenderung
dilarang dalam periode ini, periode di mana Shirin tumbuh sebagai remaja di
Iran. Namun, jilbab mulai dikenakan secara meluas oleh perempuan, bukan hanya sebagai
simbol ketaatan menjalankan agama, namun juga menjadi simbol politik perlawanan
terhadap pemerintahan Shah dan sebuah bentuk pemberdayaan.
Semua foto dalam karya ‘Women of
Allah’ ini berkutat pada tema seputar keterpaksaan, batasan, perempuan muslim
kuno, dan kekerasan. Shirin menggunakan fotografi untuk menyampaikan pada
audiensnya bahwa mereka memang melihat realitas tertentu. Bahwa tiap perempuan
Islam Iran berada pada citra yang negatif. Dalam Islam, tubuh perempuan secara
historis menjadi sarana pertempuran untuk berbagai macam ideologi dan retorika
politik. Sebuah identitas dan budaya yang dapat dipahami melalui status dan
keadaan perempuan, seperti peran yang mereka mainkan dalam masyarakat, hak-hak
mereka yang dapat dinikmati atau tidak, dan kode etik berpakaian yang harus
mereka patuhi.
Melalui karya ini, Shirin
mengeksplorasi pengalaman seorang perempuan Islam. Beliau mengungkapkannya
melalui kata-kata perempuan yang telah hidup dan mengalami kehidupan di balik
hijab. Kata-kata yang ditulis pada kulit perempuan, menunjukkan suara harfiah
dan simbolis dari wanita yang seksualitas dan individualisme telah lenyap di
depan publik oleh jilbab.
Karya ini menceritakan kehidupan
pribadi dan publik perempuan yang hidup di bawah komitmen keagamaan yang
ekstrim. Puisi yang tertuang dalam foto-foto ini merupakan hasil karya Tahereh
Saffarzadeh: penyair dan penulis Iran, serta penerjemah sekaligus professor dari
universitas terkemuka di Iran. Taherah mengungkapkan keyakinan kuat yang
dimiliki perempuan-perempuan Iran akan Islam. Menurut perempuan Iran yang
terlibat dalam revolusi Islam, hanya dalam konteks Islam seorang perempuan bisa
setara dengan laki-laki. Dengan menyembunyikan seksualitasnya sebagai
perempuan, jilbab mencegahnya menjadi objek seksual.
Terdapat banyak kontradiksi
pribadi pada perempuan yang kuat dan bangga akan partisipasinya dalam proses
revolusioner, bersedia untuk berperang dengan senapan di punggung mereka, namun
masih menanggung hukum-hukum agama yang membuat kendala bagi kehidupan mereka.
Pendekatan Shirin menciptakan dialog konseptual yang secara visual
mengidentifikasi dan mengeksplorasi beberapa karakterisasi negatif dan
stereotip muslim, terutama perempuan muslim. Serta bagaimana konteks iman ini
mendukung mereka atau malah menghambaat mereka.
Karya Neshat berusaha
mengeksplorasi dua pandangan yang berbeda, satu dari sisi Barat yang cenderung
liberal, satu sisi dari perempuan Iran itu sendiri. Masyarakat Barat cenderung
menangkap karya seni ini menunjukkan perempuan sebagai objek yang dikungkung
dogma dan diperalat sebagai upaya politik menggulingkan kepemimpinan Shah yang
sekuler. Sedangkan perempuan Iran menganggap hal itu adalah sebuah pilihan
untuk menunjukkan kesetaraan dan membela kebenaran serta iman.
Setelah mengeluarkan “Women of Allah” yang merupakan karya
seni perdananya, Shirin mulai produkif berkarya. Tak jauh beda dengan karya
pertamanya, beliau selanjutnya tetap mengangkat perempuan Islam sebagai subjeknya
dalam berkarya seni. Kebanyakan karya seninya berupa video dan instalasi serta
multimedia performance.
![]() |
| TURBULENT (1998) |
Ini
juga dapat dianalogikan sebagai aql’
dan nafs’ di mana lelaki sebagai
makhluk yang rasional berperan sebagai aql’ atau akal, sedangkan perempuan yang
lekat dengan keindahan dan perasaan berperan sebagai nafsu yang bisa sangat
menyentuh dan memotivasi untuk kebaikan atau malah sebaliknya jika tidak
dikontrol akan membahayakan.
Di
satu sisi, video ini juga bisa menimbulkan interpretasi yang lain. Lelaki dalam
bermasyarakat lebih objektif dan mengikuti aturan serta pandangan orang-orang
sedangkan perempuan lebih mengikuti kata hati dan merasa bebas dan lepas dari
kungkungan saat mengikuti kata hatinya tersebut. Lelaki lebih ingin ‘dipandang’
atau mengejar kekuasaan sementara perempuan mengejar kebebasan.
Karya
Shirin yang lain adalah “Rapture” , memiliki
dasar konsep yang sama dengan “Turbulent”
yang mengangkat tentang perbedaan baik secara visual maupun konseptual.
Pada
karya-karya selanjutnya, Shirin masih tetap mengangkat tema perbedaan lelaki
dan perempuan dalam tatanan sosial masyarakat Muslim, kebanyakan dalam bentuk
video dan film pendek. Ada juga karyanya berupa film panjang yang diangkat dari
novel karya Shahrnush Parsipur berjudul “Women
Without Men”.
Beberapa
karyanya yang lain yaitu “Soliloquy”,
“Fervor”, “Passage”, “Logic of the
Birds”, “Tooba”, “Mahdokht”, “Zarin”, “Munis”, “Faezeh”, dan “Possession”.
Dari
semua karyanya, dapat disimpulkan Shirin Neshat ini memiliki karakteristik yang
berbeda dibandingkan para seniman perempuan feminis lainnya yang juga
mengangkat subjek kesetaraan gender
dalam berkarya. Selain karena membuka perspektif baru pada dunia mengenai Islam
dan perempuan, di beberapa karyanya Shirin cenderung lebih objektif dalam
menampilkan karya seni yang feminis dengan memperlihatkan perbedaan perspektif
tentang perempuan tanpa berat sebelah,
ketimbang para seniman perempuan
beraliran feminis yang cenderung egosentris dan mengekspresikan diri atau
berkarya dalam perspektif perempuan saja. Pesan yang dapat ditangkap dalam beberapa
karya Shirin adalah bahwa meski sesungguhnya perempuan dan lelaki itu dipandang
sama oleh Tuhan dan agama, lelaki dan perempuan memiliki banyak perbedaan dan
kekurangan masing-masing. Perbedaan itu bukan untuk diperdebatkan atau
dipermasalahkan, melainkan digunakan untuk menutupi kekurangan satu sama lain.
Langganan:
Postingan (Atom)








