Minggu, 29 Mei 2016

Malam ini, aku tidur dalam pelukan puisi orang lain.

Darinya,
kukecap lembab hangat senyummu.
Kusesap bau tubuhmu.
Kudekap erat rindumu.

Tak perlu, kataku.

Bukan puisimu yang kumau.

Cukup wujud nyatamu di sampingku.
Cukup itu.

Karena bagiku, hadirmu adalah
Kumpulan frasa yang membentuk kalimat indah
Lebih dari semua puisi yang pernah ada.

Kamis, 23 Oktober 2014





Aku ingin menyimpan tawamu
ke dalam sebuah wadah kaca
yang hanya hatiku tau dimana tempatnya




Kamis, 16 Oktober 2014


Aku diam, tanyamu tak kunjung datang

Aku bertutur kisah, kamu malah memalingkan pandang

Aku menyamakan langkah, larimu semakin kencang


Sengaja bikin aku ngos-ngosan

Hingga tenagaku hilang



Aku mati



mungkin kamu pun tak peduli





Rabu, 08 Oktober 2014



Bulan berdarah


Ia merekah dalam merah


Penuh luka namun parasnya makin indah







Selasa, 07 Oktober 2014



Dan, disitulah dia. Duduk bersandar pada rak sambil memainkan laptopnya. 
Dia mengenakan baju berwarna maroon. Saya menatap tertegun.



19 April 2012


Sabtu, 27 September 2014


Aku mencintaiMu
Wahai Engkau pemberi pagi, pemeluk senja
Wahai Engkau pencipta Semesta, dan pendengar segala doa

Senin, 15 September 2014

Minggu, 14 September 2014


Mungkin, kita terlalu sibuk mencari hal-hal yang hanya ada dalam delusi.
Sampai lupa apa yang sudah kita raih dan miliki, juga cara untuk mensyukuri.




Senin, 08 September 2014

Surya dan Purnama

Surya beranjak dari tempatnya
menyisakan semburat merah muda di ujung senja, 
sedang Purnama merangkak terengah mengejarnya.

Sayang, Semesta tak mengizinkan mereka bertatap muka.

Namun Purnama mengerti

Mereka tak akan indah jika bersama.

Surya dan Purnama indah dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Andai Surya dan Purnama bertatap muka, 
maka sinar siang silaunya membakar bumi

Sedang malam didera gulita yang muram dan sunyi.


Jadi, begini pun cukup untuk Purnama.


Meski sulit, diam-diam ia bahagia.







Selasa, 29 Juli 2014


Malam senyap
Aku diliputi pengap
Rasanya sesak
Berat
Dada penuh oleh hal-hal yg dipendam rapat-rapat
Hal-hal yang harusnya dibagi tapi rasanya tak seorangpun bisa mengerti

Kalau sudah begini, hanya satu yang dapat mengobati:

Tidur lelap tanpa mimpi hingga esok pagi.

Selasa, 22 Juli 2014



Mungkin kita terlalu lama menari dalam delusi.
Mimpi terlalu tinggi, dan lupa cara untuk kembali.

Lalu tanpa basa-basi,
Gravitasi menarik kita kembali menghentak bumi

Meski rasanya sakit sekali 
Kita jadi mengerti:

Mimpi butuh realisasi




Selasa, 03 Juni 2014

Minggu, 01 Juni 2014

Hidup Sendiri ≠ Mandiri


Dan di sinilah saya.

Menyempil sendiri di tengah keramaian salah satu restoran cepat saji di pusat ibukota, Jakarta.
Tengah menghitung menit demi menit, jam demi jam, menuju Senin, menunggu pengalaman pertama bernama simulasi dunia kerja di dunia nyata.
Menunggu di mana ilmu tak lagi sekedar teori belaka atau sekedar kata-kata dalam buku panduan kuliah saja. 
Kepala dipenuhi tanya, sedang hati campur aduk dengan berbagai macam rasa.

Pengalaman pertama memang selalu menimbulkan euforia dengan rasa penasaran di dalamnya.

Seperti tiga tahun lalu, saat pertama kalinya menjadi mahasiswa dan jauh dari orangtua.
Bagi saya yang seorang penyendiri dan selalu ingin menjadi mandiri, pengalaman pertama ini adalah sesuatu yang sangat dinanti-nanti.
Dan sekarang, saya tiba di titik ini lagi.

Lalu, setelah 3 tahun merasakan hidup sendiri apakah lantas membuat saya menjadi mandiri

Selama ini saya pikir begitu
Hingga proses menuju 'pengalaman pertama' ini menyadarkan saya bahwa menjadi mandiri tak cukup dengan hidup sendiri, bahwa menjadi mandiri bukan sekedar jauh dari orangtua saja.

Mandiri berarti tahu bagaimana mengambil keputusan tepat sendiri.

Tahu bagaimana bersikap, bagaimana menghadapi masalah dan mencari solusi tanpa perlu disetir-setir orang lain lagi.

Semua orang bisa melakukan apa-apa sendiri, memutuskan sesuatu dan menghadapi masalah yang dihadapi dengan caranya masing-masing tanpa ada perlu campur tangan orang lain.

Tapi, apakah sikap dan keputusan yang diambilnya sendiri itu sudah tepat dan bijak?

Akhirnya saya pun tiba pada kesimpulan:

Mandiri bukan tentang bisa melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.
Mandiri adalah tentang mengambil keputusan yang tepat dan bersikap bijak dalam menghadapi segala sesuatu sendiri.

Jadi, apakah kita sudah benar-benar menjadi mandiri?







Minggu, 25 Mei 2014

At least I'm trying

I'm not that smart.
But I'm trying to looks smarter.
I'm not that kind.
But I'm trying to be more positive to anyone.
I'm not that perfect.
But I'm trying to work harder and learn more.
Maybe I'm a fake,
But at least I'm trying to be better.

Minggu, 11 Mei 2014

Karya di Balik Trauma: IGAK Murniasih





Bibirnya menyunggingkan senyum yang lebar dan bahagia, matanya mengerling jenaka, dan sepasang alis tebal bak ulat bulu bewarna hitam, bertengger santai di keningnya. Siapa sangka, wajah itu menyimpan trauma?

I Gusti Ayu Kadek Murniasih namanya. Beliau merupakan salah satu pelukis perempuan ternama di Indonesia, bahkan banyak karyanya sudah melanglang buana hingga mancanegara. Beliau mengangkat masalah gender dan seks sebagai subjeknya dalam berkarya. Melalui karyanya, Murni tak sekedar bercerita tentang seks saja, lebih dari itu, beliau berbicara tentang hidup melalui simbol-simbol yang dapat diinterpretasikan sebagai genital manusia dalam bentuk yang menarik dan jenaka.

Lahir pada tanggal 21 Mei 1966 di Tabanan, Bali (sumber lain mengatakan beliau lahir di Jembrana pada 4 Juli 1966) dari keluarga kalangan menengah bawah. Murni—begitu beliau akrab disapa—sejak kecil telah hidup dalam penderitaan dan kemiskinan. Orangtuanya adalah petani yang kemudian menjual sawahnya dan memutuskan untuk bertransmigrasi ke pedalaman Sulawesi. Di sana, beliau membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di sebuah keluarga Cina yang menyekolahkannya hingga kelas 2 SMP. Kemudian, bersama keluarga tersebut, beliau pindah ke Jakarta dan diajak bekerja di garmen sebagai tukang jahit. Tak betah di Jakarta, Murni akhirnya memutuskan untuk kembali ke Bali dan menjadi pengrajin perak di sana.

Murni kemudian bertemu dengan seorang lelaki dari Payangan, Gianyar yang mengajaknya menikah. Namun, pernikahan tersebut kandas karena Murni tak mampu menghasilkan keturunan dan lelaki tersebut ingin menikah lagi.

Setelah perceraian yang menimbulkan luka tersebut, Murni memutuskan untuk belajar melukis gaya Pengosekan di Ubud sambil bekerja. Murni kemudian belajar pada Dewa Putu Mokoh, seorang pelukis Pengosekan yang sering mengangkat tema-tema yang berbau cabul dan porno dalam tutur visual yang jenaka. Dari Mokoh-lah, Murni akhirnya menemukan gaya lukis yang mampu menjadi terapi bagi derita batin yang dipendamnya. Kanvas pun menjadi media ekspresi jiwa dan obat yang mumpuni bagi traumanya.


Karya-Karya IGAK Murniasih

Karya-karya Murni merupakan ekspresi diri dan penggambaran emosi dari pengalaman individualnya tentang seks. Kebanyakan lukisannya merupakan ungkapan emosi yang jujur atas pengalaman getir yang dialaminya sejak kecil. Bagaimana kekerasan seksual yang beliau alami yang dilakukan oleh ayahnya sendiri, seorang lelaki yang harusnya menjadi sosok pelindung tapi malah menodai darah daging sendiri.

Selain itu Murni bercerita pula tentang pernikahannya. Beberapa lukisannya mengungkapkan tentang keinginan kuatnya untuk memiliki anak sebagai seorang perempuan. Termasuk stigma bahwa perempuan yang utuh dan ideal adalah perempuan yang hamil dan melahirkan, di mana beliau tak memiliki kemampuan untuk itu.

Dari karya-karyanya, Murni mengajak masyarakat untuk mengakui bahwa kekerasan seksual dan nilai serta norma yang ada di masyarakat yang menyudutkan perempuan itu selalu ada meski berusaha ditutup-tutupi. Norma dan nilai seringnya menimbulkan tabu yang membatasi diri kaum perempuan dalam mengungkapkan hal tersebut sehingga hanya mampu menjadi luka batin dan trauma yang berusaha dipendam namun bisa menjadi hantu yang paling mengerikan seumur hidup.


Digembok (Karya Murniasih)

Dalam perjalanan hidupnya yang begitu berliku, pada akhirnya Murni menemukan kebahagiaan bersama Mondo—seorang pelukis Italia yang mencintai Murni dengan segenap jiwanya. Mereka tinggal di sebuah tengah tegalan di Pengosekan yang dikontrak Mondo dan membangun studio bambu sederhana, tidak jauh dari studio Mondo. Mondo adalah kekasih sekaligus guru yang banyak mengajari Murni teknik melukis dan komposisi ala Barat.

I Gusti Ayu Kadek Murniasih akhirnya tutup usia pada 11 Januari 2006 karena kanker rahim. Beliau wafat padausia yang belum juga mencapai angka 40Dunia seni kontemporer Indonesia lagi-lagi kehilangan seorang perupa perempuan yang berbakat dan potensial, yang mampu dengan tegar mengungkap mimpi buruk dan penderitaan-penderitaannya secara jujur dan polos tanpa pretensi, yang berhasil mengatasi kegetiran dengan menikmati setiap bagian tubuhnya dengan berterus terang. 

Apa yang dapat dipetik dari Murni adalah, tiap manusia menyimpan penderitaan dan trauma masing-masing. Meski kita tak dapat lepas dari bayang-bayang mengerikan namun kita masih bisa memilih apakah ingin terus terjerumus dalam bayang-bayang itu atau mengolahnya menjadi sesuatu yang positif. Misalnya, dalam bentuk karya.



Kamis, 01 Mei 2014




SHIRIN NESHAT, PERUPA PEREMPUAN ISLAM DARI IRAN
                Shirin Neshat merupakan salah satu perupa perempuan Islam yang mengangkat masalah gender,  politik, dan agama dalam dunia Muslim sebagai subjek dalam berkarya. Melalui karyanya, Shirin Neshat banyak bercerita tentang kehidupan perempuan Islam Iran yang terpengaruh dogma-dogma budaya dan nilai yang mengatasnamakan agama, serta konflik politik dalam dunia Islam. Kepindahannya ke New York untuk menempuh pendidikan mengubah hidupnya.
                Shirin Neshat lahir pada tanggal 26 Maret 1957 di Qazvin, sebuah daerah dengan nuansa relijius yang kuat, terletak di sebelah barat laut Iran. Beliau merupakan anak keempat dari lima bersaudara dan berasal dari keluarga kalangan menengah ke atas. Ayahnya termasuk lelaki yang berpikiran maju pada saat itu. Saat di mana orangtua lainnya di Iran menetapkan aturan yang ketat kepada anak-anak perempuannya sesuai dengan dogma budaya dan agama yang ada pada saat itu, ayah Shirin Neshat justru mendorongnya untuk menjadi individu yang mandiri, mengambil resiko, terus belajar, dan melihat dunia.
                Kehidupannya mulai berubah drastis saat beliau dikirim ke sekolah Katolik di Teheran. Beliau harus menjalani kehidupan yang sangat berbeda, dari kehidupan keluarga yang hangat dan kental dengan nilai-nilai Islam menjadi kehidupan akademis yang penuh dengan aturan dan nilai-nilai Katolik. Keterkejutan Shirin akan perubahan drastis yang harus beliau alami membuatnya depresi hingga menderita anoreksia.
                Pada periode tahun 1960-an hingga awal 1970-an, pendidikan Barat menjadi populer di kalangan keluarga menengah atas Iran. Banyak orangtua dari kalangan tersebut mengirimkan putra mereka ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan Barat. Begitu pula keluarga Shirin Neshat. Namun, yang membedakan keluarga Shirin dengan keluarga lainnya, yang dikirim tak hanya putra-putranya saja. Putri-putri mereka, termasuk Shirin turut dikirim ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.
                Shirin menyelesaikan studinya di jurusan Seni hingga mendapat gelar BA, MA, dan MFA di University of California, Berkeley. Kehidupannya di dunia Barat, membuat pikirannya semakin terbuka dan wawasannya semakin berkembang.


PERJALANAN SHIRIN NESHAT DALAM BERKARYA
Setelah menyelesaikan studinya, Shirin Neshat tidak serta merta produktif berkarya. Pada awal-awal pasca kelulusannya dari Berkeley, beliau merasa ide-idenya tidak cukup kuat dan beliau tidak siap untuk menghasilkan karya seni. Beliau juga merasa tidak cukup terilhami oleh sejarah seni yang telah dipelajarinya.
Shirin Neshat pun memutuskan untuk pindah ke New York. Namun, beliau semakin terintimidasi oleh karya-karya seni kontemporer yang ada di sana dan semakin menyadari bahwa dirinya belum cukup dewasa dan bergairah untuk berkarya. Yang Shirin lakukan selanjutnya adalah bekerja di sebuah institusi seni bernama The Storefront for Art and Architecture yang didirikan oleh mantan suaminya, Kyong Park. Beliau bekerja sebagai administrator sambil membantu dalam program kuratorial. The Storefront merupakan organisasi non-profit yang didedikasikan untuk menyampaikan program seni dan arsitektur dengan mengumpulkan orang-orang yang memiliki latar belakang arsitek, baik secara teoritis maupun praktis. Dengan bergabungnya Shirin ke dalam organisasi ini, beliau bertemu dengan orang-orang dari berbagai bidang, seperti seniman, arsitek, filsuf, budayawan, bahkan terkadang ilmuwan, yang berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran-pemikiran Shirin.
Yang menjadi titik balik Shirin dalam bidang seni adalah saat beliau memutuskan untuk kembali ke Iran pada tahun 1990 setelah 12 tahun kepergiannya. Perjalanan tersebut hingga perjalanan-perjalanan selanjutnya membuatnya fokus pada artistik, terutama pada Revolusi Islam dan peran perempuan dalam revolusi tersebut. Hal itu membuatnya sadar bahwa beliau menemukan subyek yang membuatnya bergairah untuk berkarya. Hingga akhirnya ia membuat karya pertamanya pada tahun 1993-1997 yang berjudul “Women of Allah”. Karya ini merupakan karya fotografi yang mengangkat tema tentang revolusi dan konsep tentang ‘syahid’.






WOMEN OF ALLAH (1993-1997)






                Karya seni berupa fotografi ini memiliki visual yang sederhana. Beberapa elemen dimunculkan berulang kali: tubuh perempuan, topik yang banyak mengundang masalah dalam budaya Islam karena mengimplementasikan aib, dosa, dan seksualitas; teks kaligrafi, yang memuat puisi dari penulis perempuan Iran; senjata api, sebagai lambang kekerasan; dan kerudung atau cadar, yang begitu kontroversial, dianggap sebagai lambang penindasan sekaligus pembebasan—perlawanan terhadap pengaruh Barat.
                Karya ini terinspirasi oleh Revolusi Islam di Iran. Sebelum revolusi, kepemimpinan Shah mencoba untuk mempromosikan budaya sekuler. Bahkan, hijab tidak disukai dan cenderung dilarang dalam periode ini, periode di mana Shirin tumbuh sebagai remaja di Iran. Namun, jilbab mulai dikenakan secara meluas oleh perempuan, bukan hanya sebagai simbol ketaatan menjalankan agama, namun juga menjadi simbol politik perlawanan terhadap pemerintahan Shah dan sebuah bentuk pemberdayaan.
                Semua foto dalam karya ‘Women of Allah’ ini berkutat pada tema seputar keterpaksaan, batasan, perempuan muslim kuno, dan kekerasan. Shirin menggunakan fotografi untuk menyampaikan pada audiensnya bahwa mereka memang melihat realitas tertentu. Bahwa tiap perempuan Islam Iran berada pada citra yang negatif. Dalam Islam, tubuh perempuan secara historis menjadi sarana pertempuran untuk berbagai macam ideologi dan retorika politik. Sebuah identitas dan budaya yang dapat dipahami melalui status dan keadaan perempuan, seperti peran yang mereka mainkan dalam masyarakat, hak-hak mereka yang dapat dinikmati atau tidak, dan kode etik berpakaian yang harus mereka patuhi.
                Melalui karya ini, Shirin mengeksplorasi pengalaman seorang perempuan Islam. Beliau mengungkapkannya melalui kata-kata perempuan yang telah hidup dan mengalami kehidupan di balik hijab. Kata-kata yang ditulis pada kulit perempuan, menunjukkan suara harfiah dan simbolis dari wanita yang seksualitas dan individualisme telah lenyap di depan publik oleh jilbab.
                Karya ini menceritakan kehidupan pribadi dan publik perempuan yang hidup di bawah komitmen keagamaan yang ekstrim. Puisi yang tertuang dalam foto-foto ini merupakan hasil karya Tahereh Saffarzadeh: penyair dan penulis Iran, serta penerjemah sekaligus professor dari universitas terkemuka di Iran. Taherah mengungkapkan keyakinan kuat yang dimiliki perempuan-perempuan Iran akan Islam. Menurut perempuan Iran yang terlibat dalam revolusi Islam, hanya dalam konteks Islam seorang perempuan bisa setara dengan laki-laki. Dengan menyembunyikan seksualitasnya sebagai perempuan, jilbab mencegahnya menjadi objek seksual.
                Terdapat banyak kontradiksi pribadi pada perempuan yang kuat dan bangga akan partisipasinya dalam proses revolusioner, bersedia untuk berperang dengan senapan di punggung mereka, namun masih menanggung hukum-hukum agama yang membuat kendala bagi kehidupan mereka. Pendekatan Shirin menciptakan dialog konseptual yang secara visual mengidentifikasi dan mengeksplorasi beberapa karakterisasi negatif dan stereotip muslim, terutama perempuan muslim. Serta bagaimana konteks iman ini mendukung mereka atau malah menghambaat mereka.
                Karya Neshat berusaha mengeksplorasi dua pandangan yang berbeda, satu dari sisi Barat yang cenderung liberal, satu sisi dari perempuan Iran itu sendiri. Masyarakat Barat cenderung menangkap karya seni ini menunjukkan perempuan sebagai objek yang dikungkung dogma dan diperalat sebagai upaya politik menggulingkan kepemimpinan Shah yang sekuler. Sedangkan perempuan Iran menganggap hal itu adalah sebuah pilihan untuk menunjukkan kesetaraan dan membela kebenaran serta iman.
                Setelah mengeluarkan “Women of Allah” yang merupakan karya seni perdananya, Shirin mulai produkif berkarya. Tak jauh beda dengan karya pertamanya, beliau selanjutnya tetap mengangkat perempuan Islam sebagai subjeknya dalam berkarya seni. Kebanyakan karya seninya berupa video dan instalasi serta multimedia performance.

TURBULENT (1998)
 
Pada karya selanjutnya, yaitu “Turbulent”, Shirin Neshat bercerita tentang perbandingan respon masyarakat sosial terhadap laki-laki dan perempuan. Video ini menampilkan dua kondisi berbeda di mana terdapat sebuah panggung yang menampilkan penyanyi lelaki dengan banyak penonton dan panggung yang satunya lagi diisi oleh seorang perempuan tanpa penonton sama sekali. Sang penyanyi lelaki menyanyikan lagu dengan lirik puisi karya Rumi sambil menghadap ke kamera. Nyanyian lelaki ini ditutup oleh tepuk tangan meriah dari penontonnya. Kemudian, tepat setelah berakhirnya nyanyian lelaki tadi, kamera mulai bergerak seiring suara wanita dalam kegelapan mulai menyanyikan nada tanpa kata-kata. Terlihat ekspresi penyanyi lelaki dan para penontonnya tercengang takjub tak mampu berkata-kata mendengar nyanyian sang wanita, meski tak mendapat tepuk tangan.
Ini juga dapat dianalogikan sebagai aql’ dan nafs’ di mana lelaki sebagai makhluk yang rasional berperan sebagai aql’ atau akal, sedangkan perempuan yang lekat dengan keindahan dan perasaan berperan sebagai nafsu yang bisa sangat menyentuh dan memotivasi untuk kebaikan atau malah sebaliknya jika tidak dikontrol akan membahayakan.
Di satu sisi, video ini juga bisa menimbulkan interpretasi yang lain. Lelaki dalam bermasyarakat lebih objektif dan mengikuti aturan serta pandangan orang-orang sedangkan perempuan lebih mengikuti kata hati dan merasa bebas dan lepas dari kungkungan saat mengikuti kata hatinya tersebut. Lelaki lebih ingin ‘dipandang’ atau mengejar kekuasaan sementara perempuan mengejar kebebasan.
Karya Shirin yang lain adalah “Rapture” , memiliki dasar konsep yang sama dengan “Turbulent” yang mengangkat tentang perbedaan baik secara visual maupun konseptual.
Pada karya-karya selanjutnya, Shirin masih tetap mengangkat tema perbedaan lelaki dan perempuan dalam tatanan sosial masyarakat Muslim, kebanyakan dalam bentuk video dan film pendek. Ada juga karyanya berupa film panjang yang diangkat dari novel karya Shahrnush Parsipur berjudul “Women Without Men”.
Beberapa karyanya yang lain yaitu “Soliloquy”, “Fervor”, “Passage”, “Logic of the Birds”, “Tooba”, “Mahdokht”, “Zarin”, “Munis”, “Faezeh”, dan “Possession”.

Dari semua karyanya, dapat disimpulkan Shirin Neshat ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan para seniman perempuan feminis lainnya yang juga mengangkat  subjek kesetaraan gender dalam berkarya. Selain karena membuka perspektif baru pada dunia mengenai Islam dan perempuan, di beberapa karyanya Shirin cenderung lebih objektif dalam menampilkan karya seni yang feminis dengan memperlihatkan perbedaan perspektif tentang perempuan tanpa berat sebelah,  ketimbang  para seniman perempuan beraliran feminis yang cenderung egosentris dan mengekspresikan diri atau berkarya dalam perspektif perempuan saja. Pesan yang dapat ditangkap dalam beberapa karya Shirin adalah bahwa meski sesungguhnya perempuan dan lelaki itu dipandang sama oleh Tuhan dan agama, lelaki dan perempuan memiliki banyak perbedaan dan kekurangan masing-masing. Perbedaan itu bukan untuk diperdebatkan atau dipermasalahkan, melainkan digunakan untuk menutupi kekurangan satu sama lain.

Senin, 31 Maret 2014




There's always an exit door.
It's you who choose to stay,
or just go away.